Betapa bahayanya lisan yang tidak terlatih untuk berkata yang baik. Betapa bahayanya bahasa lisan yang tidak tertata dan terjaga. Karena di antara maksiat lisan adalah mencaci seorang Muslim, melaknat, melecehkan, dan mengatakan setiap perkataan yang menyakiti hatinya tanpa ada sebab syar’i (alasan yang dibenarkan oleh syariat).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Artinya: “Muslim yang sempurna imannya adalah seseorang yang orang Muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya” (Muttafaqun ‘alaih).
Oleh sebab itu, kita harus pandai-pandai dalam menjaga lidah dari ucapan-ucapan yang tidak diinginkan. Jangan sampai lidah kita menjadi bencana bagi diri sendiri maupun orang lain.
Bahkan, Imam al-Ghazali menuturkan: “Lidah adalah nikmat yang agung, bentuknya kecil, tapi akibat yang ditimbulkannya bisa sangat besar.”
Mengapa demikian? Karena sebab lisan bisa terjadi perceraian antara suami dan istri, karena sebab lisan seorang anak bertengkar dengan orang tuanya, karena sebab lisan huru hara, fitnah, dan kerusuhan terjadi dimana-mana. Na’udzubillah
Suatu ketika, sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mendaki gunung Shafa. Setelah tiba di puncaknya, beliau memegang lidahnya sembari berucap: “Wahai lidah, ucapkanlah perkataan yang baik niscaya engkau beruntung. Diamlah dari perkataan yang buruk niscaya engkau selamat. Lakukanlah itu sebelum engkau menyesal. Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْثَـرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ مِنْ لِسَانِهِ (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ)
Artinya: “Sebagian besar dosa dan kesalahan manusia itu bersumber dari lidahnya” (HR ath-Thabarani).
Maka dari itu, kita harus selalu mengingat bahwa kelak di akhirat setiap apa yang kita perbuat dan yang kita ucapkan, akan dipertanggungjawabkan. Sebagaimana firman Allah dalan Al Qur’an:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
(النور: ٢٤)
Maknanya: “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS an-Nur: 24)
Semoga kita semua terhindar dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat. Karena kata-kata yang terlepas tanpa di pikirkan terlebih dahulu bisa menjadi pedang maya yang menikam tajam. Ingat, tak sedikit orang yang mudah terluka karena omongan. Maka dari itu, seorang muslim yang baik harus mampu menjamin keselamatan muslim lain dari bahaya tangan dan lidahnya dengan melatih setiap bahasa yang terucap dari lisannya.



