Candunya Orang Beriman

Candunya orang beriman bukan tentang menambah porsi saat makan, dengan menu yang ia suka. Candunya orang beriman bukan tentang kecintaannya mengoleksi segala jenis trend fashion yang ada. Kemudian sampai-sampai lemari penuh dengan tumpukkan barang-barang yang tiada guna. Candunya orang beriman bukan pula tentang ia yang senang menumpuk rupiah, hingga jumlah nol direkeningnya tak terhitung lagi.

Candunya orang beriman adalah tentang ia yang mendidik dirinya untuk selalu siap berkorban, baik dalam harta, pikiran, emosi, hingga jiwa, dan raganya.

Candunya orang beriman ialah tentang ia yang tidak pernah merasa cukup dan tidak berbangga diri atas satu amalan shaleh yang telah diperbuat. Karena Ia akan senantiasa terus beramal. Lagi dan lagi, hingga akhir hayatnya.

Mengapa demikian? Karena Ia merasa bahwa amal yang ada, tak cukup sama sekali untuk dibawa pulang menghadap Ilahi Rabbi saat diakhirat nanti.  Ia memiliki semboyan hidup seperti dalam Al Qur’an, yang artinya:

“Maka, apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan) tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain.” (Q.S Al Insyirah:7)

Jadi, pertanyaannya sekarang adalah sudahkah dalam diri kita merasa candu untuk beramal shaleh?

Jangan sampai usia telah berumur:

Kualitas ibadah hanya sekedar saja.

Kuliatas shalat hanya sesempatnya saja.

Kualitas ibadah puasa hanya yang wajib saja.

dan terlebih jangan samai diri kita tak begitu menyukai ilmu agama. Na’udzubillah…

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak pernah merasa cukup dengan amal ibadah yang ada, Kemudian terus merasa candu untuk beramal shaleh dan memantaskan diri agar menjadi calon penghuni syurga… Yuk aminkan!

Berita Lainnya:

Leave a Replay