Islam selalu mengajarkan manusia untuk selalu beradab. Termasuk juga dalam bernasehat.
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.”
Nasihat itu adalah amaliah yang baik, dan harus disampaikan dengan cara yang baik. Mengapa? Supaya tujuan baiknya dapat tercapai dengan baik, sehingga tidak menyebabkan kontraproduktif yang justru dapat menimbulkan permusuhan di antara orang yang menasihati dengan yang orang dinasihati dan bahkan bisa merembet dengan melibatkan orang ketiga, keempat dan seterusnya.
Agama islam adalah agama nasehat, semua sendi dalam agama islam berisikan nasehat. Setiap kita pasti pernah dinasehati atau mungkin menasehati. Karena prinsip utama dalam menopang agama adalah saling menasehati satu sama lain. Perihal menasehati itu memiliki kebenaran namun tak merasa paling benar, memiliki ilmu namun tak merasa paling tahu
Agar saat menyampaikan nasehat dapat tersampaikan dengan baik, seorang muslim perlu memperhatikan etika atau adab dalam memberikan nasehat kepada orang lain. Lantas, apa saja etika dalam memberikan nasehat itu?
Pertama, Gunakanlah Kata-kata yang Baik.
Dalam menyampaikan nasehat, hendaknya kita menggunakan kata-kata yang baik. Yaitu kata-kata yang penuh kelembutan dan hikmah. Seperti halnya Allah menyuruh kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika menasehati Fir’aun yang termaktub dalam Al Qur’an. Surat Thaha Ayat 44, yang berbunyi:
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.
Kedua, Tabayyun (Cross Chek Berita)
Tabayyun itu sangat penting, kita tidak bisa bertopang pada kabar yang belum jelas dan simpang siur. Sebagaimana yang terdapat dalam Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Ketiga, jangan Su’udzon (berburuk sangka)
Hendaknya nasehat yang diberikan kepada orang lain, bukan didasari dengan prasangka buruk. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al Hujurat Ayat 12
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اجۡتَنِبُوۡا كَثِيۡرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعۡضَ الظَّنِّ اِثۡمٌۖ
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…
Keempat, jangan memaksa seseorang untuk menerima nasihatmu. Sifat memaksa bukanlah termasuk nasehat, meskipun dimaksudkan untuk kebaikan.
Ibnu Hazm Al Andalusi rahimahullah mengatakan:
“Jangan engkau menasehati orang dengan mempersyaratkan harus diterima nasehat tersebut darimu, jika engkau melakukan perbuatan berlebihan yang demikian, maka engkau adalah Orang Yang Dzalim bukan orang yang menasehati. Engkau juga orang yang menuntut ketaatan bak seorang raja, bukan orang yang ingin menunaikan amanah kebenaran dan persaudaraan. Yang demikian juga bukanlah perlakuan orang berakal dan bukan perilaku kedermawanan, namun bagaikan perlakuan penguasa kepada rakyatnya atau majikan kepada budaknya.” (Al Akhlaq was Siyar fi Mudawatin Nufus, 45).
Kelima, jangan menasehati di depan umum.
Banyak orang yang seringkali salah karena memberikan nasehat di depan orang banyak, atau didepan orang lain. Padahal sebaik-baiknya nasehat adalah yang dilakukan empat mata, tanpa sepengetahuan siapapun.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah dalam syai’rnya berkata:
“Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu Pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku. Maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti.” (Diwan Asy Syafi’i, hal. 56).
Keenam, Nasehati diri sendiri terlebih dahulu sebelum kepada orang lain.
Ada baiknya kita memastikan apakah kita mampu memperoleh hikmah dan manfaat dari nasehat yang kita berikan untuk orang lain, atau tidak. Jangan sampai kita pandai menasehati orang, namun bodoh dan masih berbuat buruk sehingga tidak menjalankan apa yang kita nasehati:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
”Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash Shaff: 2-3)
Ketujuh, jangan melakukan Tahrisy.
Apa itu tahrisy? Ibnu Atsir rahimakumullah mengatakan:
التحريش : الإغراء بين الناس بعضهم ببعض
“Tahrisy adalah memancing pertengkaran antara orang-orang satu sama lain” (Jami’ Al Ushul, 2/754).
Al Baghawi mengatakan:
التحريش : إيقاع الخصومة والخشونة بينهم
“Tahrisy adalah memicu adanya saling bertengkar dan saling berbuat kasar antara sesama Muslim” (Syarhus Sunnah, 13/104).
Itulah beberapa adab dalam menasehati orang lain menurut Islam. Semoga ketujuh adab tersebut menjadi perisai bagi kita semua agar terhindar dari melukai perasaan penerima nasehat. Mengapa? Jangan sampai kita lebih fasih bicara, tapi gagap beramal. Jangan sampai kita lebih pandai menasehati, tapi tak tepat saat dan cara.



